Kamis, 01 Maret 2012

Makna Idul Qurban bagi Santri

KHR Ach Fawaid As'ad
Assalamu’alaikum War. Wab.
Para santri dan alumni yang saya cintai, baru saja kita memeringati sekaligus merayakan Idul Adha atau Qurban. Adha dan Qurban merupakan istilah yang saling mengait. Adanya Adha (sembelihan) karena adanya hewan yang dikurbankan; sapi atau kambing. Ia merupakan momentum sejarah untuk menghayati makna di balik peristiwa besar antara Ibrahim dan Ismail di satu pihak dan Ibrahim-Ismail dan syetan di pihak lain.
Ibrahim adalah sosok orang tua yang dengan penuh keikhlasan serta melawan kemanusiaannya menjalankan titah Sang Azza agar menyembelih si putra tunggal tersayang bersama Hajar. Rasa cinta dan sayangnya kepada Ismail mengalahkan besarnya gunung dan luasnya samudera. Ini bias dimaklumi karena Ismail adalah putera yang terlahir justeru ketika usianya sudah mencapai senja. Meski demikian besar rasa cinta dan sayangnya kepada Ismail sebagai orang tua, ia harus pasrah untuk memenggal lehernya demi perintah Allah swt.
Ismail pun bukan figure anak sembarangan. Dengan penuh ikhlas pula ia merelakan sang leher yang selama ini menopang tegak kepalanya terpisah dari raganya. Ini pun demi sebuah harapan sang ayah untuk meraih ridho Ilahi. Bahkan ia sendiri yang menyilakan sang ayah agar menebas lehernya untuk sebuah persembahan kepada Sang Penguasa.
Pada scene yang lain muncul si laknat syetan dengan gagah-pongahnya sekaligus ceriwis bibirnya berupaya menghancurkan niat dan ikhlas keduanya dengan mengurungkan episode penyembelihan. “Engkau ini orang tua apa, tega-teganya mau menyembelih anak sendiri. Sadis! Kanibal kau ini!” Begitu kira-kira syetan mengenyahkan semangat Ibrahim.
Namun Ibrahim dan Ismail bergeming. Ia mafhum syetan memiliki seribu satu cara menggoda teguh iman seseorang. “Biar anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu.” Tekad Ibrahim dan Ismail tak goyah. Dan ending dari semua itu adalah terukirnya batu pualam sejarah yang ditulis tinta emas: pengorbanan dan keikhlasan.
Peristiwa tersebut sangat relevan jika kita kontekkan dengan kehidupan santri. Ada orang tua dan santri di satu pihak, dan ada godaan di pihak lain.
Dengan susah payah tak kenal lelah memeras keringat membanting tulang, orang tua santri di rumah berjuang dan berkorban dengan penuh keikhlasan mencari nafkah bersama segebok harapan untuk sang anak tercinta yang tengah mencari ilmu dui pondok pesantren.
Si santri pun (seharusnya) dengan penuh keikhlasan mencari ilmu dan menjalankan aturan-aturan pesantren guna tercapainya ilmu yang manfaat dan barokah. Bermanfaat kepada dirinya, kepada keluarga, lingkungan, bangsa dan Negara serta agamanya.
Godaan untuk melanggar aturan pesantren seperti bolos sekolah, tidak sholat berjamaah, menggunakan handphone dan sebagainya adalah syetan-syetan energial yang terus berseliweran di benak mereka. Maka lawanlah sekuat tenaga dan jiwa. Insya Allah manusia yang paripurna akan disandang. Amin.
Wassalamu’alaikum War. Wab.

0 komentar:

Poskan Komentar

Share