Kamis, 01 Maret 2012

Memaknai Hijrah dan Rasa Tanggung Jawab


Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Senang rasanya usia kita masih bisa menapaki tahun baru Islam 1432 kali ini. Setidaknya kita masih diberi kesempatan seluas-luasnya untuk kian serius memohon ampun dan semakin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Karena Muharram ini tidak saja menjadi momentum tahun baru hijrah, melainkan juga ‘ulang tahun’ bagi umat Islam.
Perjalanan hijrah Muhammad saw sebagai “situs” dimulainya penghitungan hijriah menjadi semakin bermakna tatkala kita coba merenungkannya lebih dalam. Ia tidak saja merupakan hamparan sejarah dimulainya tonggak kebesaran agama Allah, tapi memiliki dimensi yang demikian beragam. Antara lain merupakan pemecut bagi meningkatnya semangat perjuangan dan “hijrah” dari buruk menjadi baik, baik menjadi lebih baik, dan seterusnya.

Muharram juga memiliki makna yang mendalam bagi nafas kehidupan pesantren, terutama di ma’had dimana saya menjadi khadam—nya.
Alhamdulillah, dari waktu ke waktu ma’had ini mengalami berbagai perkembangan signifikan. Tidak saja dalam bentuk jumlah santri, tapi juga berkembangnya sarana dan prasarana pendidikan. Ini adalah barokah “hijrah”.
Perkembangan dan peningkatan itu semua tentu harus dibarengi dengan semakin baik dan berkualitasnya pengelolaan dan pelayanan dari semua pihak. Ketua kamar semakin mengayomi anak buahnya; pengurus semakin meningkatkan keikhlasan dan pengabdiannya kepada pesantren, karena ujungnya adalah ta’abbud kepada Ilahi.
Dulu, almarhum Kiai Syamsul Arifin dengan langkahnya yang menatih dengan suara lembutnya membangunkan santri untuk bertahajjud kepada Allah, perkembangan berikutnya almarhum Syekh Toha (sebagai lurah pondok) mengembangkannya memercikkan dan menyiramkan air pada santri-santri yang masih terlelap mimpi.
Saat ini, tidak cukup dengan itu. Semakin banyaknya santri yang istirahat malam di berbagai tempat; asrama hingga ke musalla dan emperan masjid, memerlukan sarana penunjang sebagai media mengajak mereka bermunajat kepada Sang Khalik di tengah dinginnya malam. Loudspeaker pun menjadi pilihan efektif.
Yang paling penting dari itu semua adalah semangat untuk semakin meningkatkan kualitas kehambaan kita kepada Allahi Rabbinna. Hijrah dan terus berhijrah. Bermetamorfosa.
Wasslamu’alaikum War. Wab.

0 komentar:

Posting Komentar

Share